Pak Pri, tuan rumah tim kami, Sub Unit Nyamplungan, ternyata punya banyak kepiwaian selain sebagai guru yang dicintai murid-muridnya di SDN Karimunjawa 04. Di rumah, Ia adalah seorang ‘fisikawan’ yang selalu melakukan eksperimen-eksperimen fisika dari membuat jaringan listrik tenaga surya sampai membuat sumur tenaga hidrolik yang bisa memompa sendiri. Ia adalah juga seorang ‘tukang insinyur’ yang merancang maket masjid ‘nyamplungan’, merancang bangunan renovasi SD Karimunjawa 04, merancang rumahnya sendiri sampai sampai menjadi ‘tukang bangunan bagi rumahnya sendiri. Di malam-malam tertentu, kalau hobi mancingnya kambuh, ia akan menjadi ‘nelayan’ yang bisa menghabiskan waktu memancing dari petang sampai dini hari, meski tak pelak pagi harinya harus mengajar di kelas dengan kelopak mata tebal-tebal.
Pak Pri adalah juga tukang cerita yang bisa menceritakan pengalaman hidupnya, pendapatnya sampai berkali-kali. Terakhir ia adalah seorang tabib handal yang punya referensi tanaman-tanaman obat, pijat refleksi sampai alat KOP!
FAQ : “Apa itu alat Kop? “
A : Alat kop itu semacam alat yang berupa peyedot dengan tatakan gelas penyedot dari ukuran kecil sampai ukuran yang besar berdiameter sekitar 10cm. Alat kop tradisional caranya dengan menaruh gelas kaca pada bidang badan (biasanya punggung) si pesakitan. Lalu di dalamnya diberikan api kecil (biasanya berupa koin yang dibuntal kertas) dengan tujuan menyedot udara di dalam gelas. Nah, konon kalau si pesakitan benar-benar baru masuk angin, bekas kop akan berupa bulatan kebiru-biruan.
Mengenai alat Kop dan ilmu Tabib Pak Pri ini aku pernah jadi si pesakitannya :
Suatu hari pas hari pertama kepindahan kami ke rumah Pak Pri, aku dan keempat rekan sudah mulai sibuk dengan kegiatan KKN. Tapi hari pertama itu aku merasakan tubuhku ndak enak. Sampai menjelang siang sewaktu ada kegiatan belajar dengan anak-anak, tiba-tiba aku mau muntah dan minta ijin tiduran sampai sore harinya.
Nah, di malam harinya, Pak Pri langsung mememeriksaku, bercerita panjang lebar dan akhirnya menawarkan bantuan pengobatan Kop nya.
Lantas, aku berbaring, tanpa pandang malu, karena kondisi badan yang masih sakit, dimulailah prosesi kop itu dengan disaksikan teman-teman satu tim. Semua kawan satu tim tertawa cekikian melihat diriku mengaduh saat alat kop itu satu demi satu membuat bulatan-bulatan biru pada sekujur bidang punggung. Belum punah rasa sakit campur malu, Pak Pri menawarkan pijat refleksi. Apa daya tak bisa menolak semua kakiku langsung jadi sasaran. Sewaktu pak Pri memijit titik-titik tertentu pada jemari sakitnya alang kepalang. Makin cekikianlah kawan-kawan yang bergerombol menyaksikan aku si pesakitan.
Prosesi Kop dan pijat refleksi sudah paripurna. Sehabis itu memang tubuh serasa hangat dan enteng.
Pak Pri bilang :”Wah, itu bulatan-bulatan biru di punggung bekas kop paling belum sampai 3 atau 4 hari!”
Pagi hari yang indah, tidur yang nyaman di malam pertama tidur di rumah Pak Pri. Suasana yang lain, udara segar, ayam-ayam, dan wah tubuh sehabis di kop semalam terasa enak. Pak Pri menyambutku dengan senyum aneh: “Gimana kondisinya mas Alex”
Di genggaman tangan pak Pri memegang sesuatu, buah Pace alias mengkudu!
“Nah, ini biar darah rendah mas alex bisa sembuh, Pace-nya harus dimakan sampai habis yaa!”
“Gleg”, mencium baunya saja aku hampir muntah, tapi dasar nasib, pagi pertama di rumah pak pri di ospek makan pace mentah mentah.
Dengan ditunggui pak pri terpaksa kutelan pace itu. Rasanya pengar campur kecut, campur pait campur aduk dan baunya itu yang ndak menguatkan.
Aku hampir memuntahkannya berkali-kali, meski akhirnya separuh pace telah sukses masuk lambung dan sisanya…. sisanya diam-diam aku lempar ke ayam!
“Sudah habis semua mas Alex, enak kan, saya biasa makan pace”, sambil senyum penuh selidik
“Sudah pak… mmmm, lumayan pak…” Kataku sambil merem melek.
Bau pace ndak hilang-hilang sampai penghujung siang, tapi memang setelah itu kepalaku langsung terasa enteng. Pace memang berkhasiat, tapi kalau aku disuruh memakannya mentah-mentah, wah… kayaknya aku harus minta pamit dulu…..















Buku tamu