Kisah Kasih Wujdi, kucing Garong dan Si Blacky

15 04 2008

Menurut sepengetahuanku,diperkampungan manapun selalu ada binatang yang bernama tikus. Sesuai dengan mata rantai makanan, kucing menjadi predator tikus, meskipun kucing-kucing rumahan sekarang sudah tidak doyan lagi makan tikus, karena lebih terbiasa makan ikan asin, tempe atau bahkan indomie (seperti kucing peliharaanku). Satu hal yang unik, menurutku, di Karimunjawa banyak terdapat kucing-kucing liar. Bentuknya tak beda dengan kucing-kucing garong yang biasa ditemui di lorong-lorong kampung, namun di Karimunjawa alangkah banyaknya kucing sehingga kalau kita tengah menyusuri ‘jalan raya’ (jalan raya di karimunjawa hanya selebar 2m) banyak kucing-kucing yang tengah ‘indehoi’ disana. Kalau pagi saat matahari yang cerah, ndak mau kalah dengan anak pantai, kucing-kucing liar itu asyik berjemur di hangatnya aspal sambil menjilati sekujur tubuhnya. Nah, sampai petang hari saatnya mereka ‘kluyuran’. Kalau kita mata tidak ‘awas’, sewaktu mengendarai kendaraan, bisa-bisa menabrak para kucing ini. Pastinya kita tidak akan pernah kena ‘pasal’, tapi jadi repot karena ‘percaya ndak percaya’ kita harus menguburnya seperti laiknya ‘human being’. Dikubur pake acara dibungkus kain kafan, dibacakan doa-doa lantas ditanam pelan-pelan. Kalau ndak begitu, konon arwah sang kucing gentayangan dan kita bisa kena ‘apes’. Nah, saya perhatikan keunikannya kucing-kucing di Karimunjawa, terutama di daerah Nyamplungan berwarna hitam-hitam.

Setiap tempat dan makhluk hidup punya habitat dan cara bertahan hidupnya masing-masing, seperti halnya para kucing-kucing Karimunjawa. Di lingkungan sekitaran rumah Pak Pri (rumah yang kami tempati) Setidaknya disana ada sekitar 3 sampai 5 ekor kucing yang sliwar sliwer di sekujur rumah, atap rumah, halaman sampai yang menjadi sasaran tentunya ‘dapur belakang’.

Blacky- si hitam kawan kelon khusdi Si Blacky

Sesuai namanya, sekujur tubuh blacky berwarna hitam legam, kecuali (tentunya) gigi dan dua bola matanya. Tidak sesuai dengan penampilannya yang garang dan mitos yang melekat bahwa kucing hitam identik dengan kucing siluman, si blacky punya tabiat yang ‘flamboyan’. Si blacky adalah kucing kesayangan dik Alif, anak no 2 pak Pri yang penyayang binatang. Si blacky punya time schedule yang pasti saban harinya yakni tidur, bangun, makan, tidur, bangun, makan, terkadang diselingi dengan sedikit keluyuran.

Oiyaa, si Blacky punya perlakukan berbeda-beda mengenai caranya bersahabat dengan manusia. Dengan khusdi, Blacky adalah kawan setia tidur seselimut sebantal. Kalau Khusdi sudah membungkus dirinya dengan sleeping ba, blacky langsung menyusul mendengkur di kaki.

Dengan Amar, Blacky adalah kawan seperiuk ikan bakar. Blacky tidak mau berhenti ‘mengeong’ di depan Amar yang membawa piring lauknya. Kalau sudah begitu, Amar tidak kehabisan akal, ia pernah berpura-pura tidur mendengkur untuk mengelabuhi Blacky.
Sedihnya, disaat-saat terakhir kami akan meninggalkan Karimunjawa, salah satu kaki Blacky pincang.

Apalagi kalau bukan karena perkelahian dengan kucing-kucing lain. Tanpa sengaja si Blacky sempat ‘nongol’ dalam foto album Nyamplunganer’s.

penampakan si blacky

Si putih Kucing garong

Si putih kucing garong adalah semacam penguasa lingkungan sekitar rumah Pak Pri.

Kalau ia manusia ibarat badan sudah penuh tatto, bekas luka-luka bacok. Si kucing garong memang paling besar dibanding kucing-kucing lainnya. Kalau dia datang, blacky langsung lari tunggang langgang mengadu pada Alif sang majikan. Si kucing garong punya strategi khusus untuk menunjukkan ‘hegemoni’ kekuasaannya. Dengan tenang dan penuh wibawa ia akan berhenti sebentar, ambil ancang-ancang, menunggingkan ekor, lalu ‘cuuuurrrrr’, pipis di tempat ‘penandaan’ kekuasaan. Seperti itulah yang terjadi juga dengan jaket almamater ‘khusdi’ suatu hari. Sampai-sampai Khusdi menaruh rindu dendam kepadanya dan membalas dengan menendangnya sampai terpental di halaman rumah. Tapi dasar mental si kucing Garong, kena hukuman seperti itu ia tetap tak jera, masih dengan santainya keluyuran di dalam rumah.

Kucing-kucing yang lain saya tidak hapal dan tidak ada yang seunik Blacky atau se-preman kucing Garong, jadinya tidak perlu disebutkan satu-satu. Hanya selama kami tinggal disana tak sering pada malam-malam yang hening, pas enak-enaknya bermimpi tiba-tiba para kucing itu berkelahi. Entah itu berkelahi atau mau kawin. Kalau sudah sampai begitu tak ada

yang bisa menghentikan suara memekakkan seperti itu kecuali dengan melemparnya dengan ‘sandal’.

Nah, diantara hubungan paling berkesan dengan kucing-kucing Karimunjawa itu, saya pikir Wujdi masih ‘trauma’ dengan dengan kucing garong dan masih kangen tidur dikeloni Blacky.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.