Origami oh…Origami

14 12 2008

Pertama waktu disuruh bikin program individu awalnya agak bingung harus bikin program apa. Secara aku ngga tau keadaan disana. Finally, setelah tanya-tanya sama temen-temen yang pernah ke sana dan juga berdiskusi dengan teman-teman sub unit Batulawang, aku yang pada awalnya oleh ibu negara dititahkan untuk mengabdi di Batulawang memutuskan untuk bikin komunitas seni tiap sore hari. Ada Pepen, yang mau ngajarin nyanyi, Ririn, bu guru yang sabar ngajarin nari, dan aku, yang kebingungan tiba-tiba mencetuskan ‘aku ngajarin origami aja deh…’ (padahal kalo tau, gw ga jago-jago amat ma seni melipat kertas jepang itu). Sedikit modal nekat dan juga modal duit, cari-cari deh tu buku yang ngajarin origami (seenggaknya yang gampang dimengerti dan ga rumit-rumit amat). Tapi kenyataan berkata lain tiba-tiba ibu negara merelokasi aku untuk mengabdi di Nyamplungan, sempat bingung soalnya mungkin gak yah program ku diterima? sedangkan cuma aku yang niat ngajarin origami (mana ga jago-jago amat lagi…). Akhirnya sempet ngajarin ‘ibu-ibu’ Tim KKN PPM Karimun JAwa yang berjumlah 8 orang itu dengan kursus singkat seadanya. Kalo boleh jujur aku ngajarin gara-gara di tinggal sama temen-temen lain ke BTN (huh,,) tapi lumayanlah dapet pahala ngajarin orang (hehe,,)

Pas udah pindah ke induk semang kami yang baik hati ‘Pak Pri’, mulai deh kenalan ma anak-anak SD 04 Karimunjawa yang ternyata diam-diam menghanyutkan, pertamanya aja diem kesananya duh… Antusiasme mereka buat belajar tinggi banget, then kita bikin jadwal tiap kamis sore belajar origami sesekali disisipin belajar bahasa inggris juga storytelling biar gak bosen.

Minggu pertama, aku ngajarin dibantu amar, wujdi, gendon, dan pakde alex dibikin seneng, karena mereka emang kreatif juga dibikin pusingnya naudzubillah…bukan karena anak-anaknya bandel tapi karena rasa ingin tahu mereka yang sangat besar membuat mereka bertanya secara ‘keroyokan’ tapi ku anggap masi wajar lah sampai minggu-minggu berikutnya aku mulai dibikin kesel sama ulah anak-anak ga mau baris lah, berebut minta kertas, mpe ngibulin kalo belum dapet kertas lipat tapi yah namanya anak-anak…sampe pada akhirnya (aku juga amar yang gak bisa naikin volume suara ) naikin suara dan dikira marah-marah…

Mbak Ngatinah bilang ‘mbak jangan marah-marah dong nanti cepet tua loh’ lalu Amar menimpali dengan bilang ’emang kita udah tua kok..’ tapi itu belum cukup buat bikin mereka tenang terutama Samat dan ulah-ulahnya yang bikin aku dan Amar keabisan oksigen :(…Then di hari terakhir kita di Nyamplungan ada yang kirim surat ma aku bilang kalo Samat emang sengaja mancing-mancing aku supaya marah (what…?!!). Dalem ati uda gondok kita marah-marah mpe megap’

by cumi





SD Karimunjawa

2 05 2008

Di Karimunjawa ada beberapa Sekolah Dasar yang menyebar di pelosok dusun-dusun yang ada di P Karimunjawa sampai P Kemojan. Melihat jumlah siswa dan raut muka gedung-gedung SD disana, seperti melihat bagian lain bagaimana buruknya sistem pendidikan di negeri Indonesia ini. SD karimunjawa 4 contohnya,

Menyusuri ‘jalan raya’nya Karimunjawa yang mengubungkan Kota Karimunjawa sampai di ujung Batulawang yang terletak di Pulau Kemojan, adalah sebuah badan aspal tak lebih dari 2 meter yang lebih banyak dikuasai lalu lalang binatang ternak dari kambing, sapi, ayam, sampai kadang-kadang biawak dan tentunya kucing-kucing liar yang bermalas-malasan sedang bertengger di badan aspal sambil menjilat-jilat bulu-bulu di tubuhnya. Kalau pas lagi ‘apes’ seperti yang dialami Gendon kita bisa menemu ular (ular edor endemik Karimunjawa yang paling ditakuti karena sengatan bisanya mematikan). Mungkin karena kaget akan gempa lokal yang ditimbulkan langkah kaki saat melintas, ular itu keluar dari sarangnya. Beruntung sang ular hanya sekedar melongok keluar dan melintas karena memilih melanjutkan tidur siangnya. Kira-kira menempuh perjalanan 30 menit dengan mengendarai motor, rute yang mengelilingi punggung perbukitan (konon puncak tertingginya mencapai 1300 dpl lebih), kalau di siang hari adalah pemandangan yang menakjubkan. Tak hanya karena jalannya yang naik turun, terkadang berasa seperti naik roller coester (tapi harus tetap waspada kalau tidak mau menabarak kucing atau ayam yang melintas) ruas kanan kiri adalah semak belukar, pepohonan beraneka macam dari kelapa, jengkol sampai jambu monyet, juga lanscape pantai yang tak ada habisnya yang dari kejauhan nampak seperti kolam raksasa dengan dasar yang berlapis-lapis warna dari putih, menuju ke hijau-hijauan, kebiru-biruan sampai ke yang paling biru dengan batas cakrawala langit putih bersih. Terkadang nampak di kejauhan kapal-kapal dan jukung-jukung yang terombang-ambing kecil di lautan karimun, juga pulau-pulau kecil di kejauhan dengan juntai-juntai kelapa yang bergerak-gerak sepert bulu-bulu. (unfinished yet…)





Jangan Lupa Stroom Aki, WC antri, dan si mungil Amir

24 04 2008

Tiap tempat punya kisahnya sendiri-sendiri, sedangkan di bagi kawan-kawan di Nyamplungan yang unik adalah karena tempatnya yang terpencil dan tidak ada listrik dari PLTD (PL Tenaga Diesel hanya di Kota karimun dan kota Kemojan). Sebelum tim Nyamplungan bisa menetap disana, kami harus mengalami proses berliku-liku dulu. Dari pilihan tinggal di rumah Pak Bayan yang punya kamar mandi tanpa pintu, sampai penawaran tinggal di rumah seorang guru SD. Akhirnya setelah survey lokasi, pilahan jatuh ke rumah “Pak Pri”.
Awalnya, “Ibu Negara” (julukan Ratri sebagai Ketua rombongan) yang punya penampilan eksentrik ‘sepatu kungfu’, menginstruksikan tim kami untuk tinggal jadi satu dengan tim Jatikereb. Konon, alasan ‘klise-nya’ penghematan biaya!
Rute Horor Nyamplungan -Jatikereb.
Untuk tidak jadi tinggal di Jatikereb. Bayangkan saja, jarak antara Jatikereb dengan Nyamplungan sekitar 30 menit. Jika malam tiba, rute itu akan menjadi perjalanan yang benar-benar horor karena gelap total dan kanan kiri yang sepi hampir tanpa sesosok manusiapun yang melintas. Jadi kalau pas waktu melintasi jalan itu di malam hari harus benar-benar waspada kalau-kalau melihat sesuatu.

Jukung dengan Cadik terbesar di dunia

Ternyata menempari rumah Pak Pri adalah anugerah yang bertubitubi bagi tim Nyamplungan. Meskipun tenaga listrik sulit dan sarana transport yang minim (tim kami hanya bawa 1 motor tuk berlima), kami tak henti-hentinya mendapatkan hospitality dari pak Pri.

Pertama, adalah jatah makan kami yang ditambahi dari jatah 2 kali makan menjadi 3 kali makan. Itupun untuk selanjutnya Istri pak pri selalu tiada henti membuat aneka makanan.

“Ibu tuh, kasihan pada kalian, pokoknya kalian makan harus 3 kali, biar ndak di sangka di Karimunjawa pada kekurangan makanan.” Kata istri pak Pri

Kedua, Pak Pri mempunyai adik Ipar yang manis dan selalu melayani segenap keperluan dapur kami.

Ketiga, keluarga Pak Pri yang menyenangkan, penuh selera humor, dinamis, apalagi ada si kecil Amir yang lucu.

Keempat, dan masih banyak lainnya.
(unfinished yet)





Kisah Kasih Wujdi, kucing Garong dan Si Blacky

15 04 2008

Menurut sepengetahuanku,diperkampungan manapun selalu ada binatang yang bernama tikus. Sesuai dengan mata rantai makanan, kucing menjadi predator tikus, meskipun kucing-kucing rumahan sekarang sudah tidak doyan lagi makan tikus, karena lebih terbiasa makan ikan asin, tempe atau bahkan indomie (seperti kucing peliharaanku). Satu hal yang unik, menurutku, di Karimunjawa banyak terdapat kucing-kucing liar. Bentuknya tak beda dengan kucing-kucing garong yang biasa ditemui di lorong-lorong kampung, namun di Karimunjawa alangkah banyaknya kucing sehingga kalau kita tengah menyusuri ‘jalan raya’ (jalan raya di karimunjawa hanya selebar 2m) banyak kucing-kucing yang tengah ‘indehoi’ disana. Kalau pagi saat matahari yang cerah, ndak mau kalah dengan anak pantai, kucing-kucing liar itu asyik berjemur di hangatnya aspal sambil menjilati sekujur tubuhnya. Nah, sampai petang hari saatnya mereka ‘kluyuran’. Kalau kita mata tidak ‘awas’, sewaktu mengendarai kendaraan, bisa-bisa menabrak para kucing ini. Pastinya kita tidak akan pernah kena ‘pasal’, tapi jadi repot karena ‘percaya ndak percaya’ kita harus menguburnya seperti laiknya ‘human being’. Dikubur pake acara dibungkus kain kafan, dibacakan doa-doa lantas ditanam pelan-pelan. Kalau ndak begitu, konon arwah sang kucing gentayangan dan kita bisa kena ‘apes’. Nah, saya perhatikan keunikannya kucing-kucing di Karimunjawa, terutama di daerah Nyamplungan berwarna hitam-hitam.

Setiap tempat dan makhluk hidup punya habitat dan cara bertahan hidupnya masing-masing, seperti halnya para kucing-kucing Karimunjawa. Di lingkungan sekitaran rumah Pak Pri (rumah yang kami tempati) Setidaknya disana ada sekitar 3 sampai 5 ekor kucing yang sliwar sliwer di sekujur rumah, atap rumah, halaman sampai yang menjadi sasaran tentunya ‘dapur belakang’.

Blacky- si hitam kawan kelon khusdi Si Blacky

Sesuai namanya, sekujur tubuh blacky berwarna hitam legam, kecuali (tentunya) gigi dan dua bola matanya. Tidak sesuai dengan penampilannya yang garang dan mitos yang melekat bahwa kucing hitam identik dengan kucing siluman, si blacky punya tabiat yang ‘flamboyan’. Si blacky adalah kucing kesayangan dik Alif, anak no 2 pak Pri yang penyayang binatang. Si blacky punya time schedule yang pasti saban harinya yakni tidur, bangun, makan, tidur, bangun, makan, terkadang diselingi dengan sedikit keluyuran.

Oiyaa, si Blacky punya perlakukan berbeda-beda mengenai caranya bersahabat dengan manusia. Dengan khusdi, Blacky adalah kawan setia tidur seselimut sebantal. Kalau Khusdi sudah membungkus dirinya dengan sleeping ba, blacky langsung menyusul mendengkur di kaki.

Dengan Amar, Blacky adalah kawan seperiuk ikan bakar. Blacky tidak mau berhenti ‘mengeong’ di depan Amar yang membawa piring lauknya. Kalau sudah begitu, Amar tidak kehabisan akal, ia pernah berpura-pura tidur mendengkur untuk mengelabuhi Blacky.
Sedihnya, disaat-saat terakhir kami akan meninggalkan Karimunjawa, salah satu kaki Blacky pincang.

Apalagi kalau bukan karena perkelahian dengan kucing-kucing lain. Tanpa sengaja si Blacky sempat ‘nongol’ dalam foto album Nyamplunganer’s.

penampakan si blacky

Si putih Kucing garong

Si putih kucing garong adalah semacam penguasa lingkungan sekitar rumah Pak Pri.

Kalau ia manusia ibarat badan sudah penuh tatto, bekas luka-luka bacok. Si kucing garong memang paling besar dibanding kucing-kucing lainnya. Kalau dia datang, blacky langsung lari tunggang langgang mengadu pada Alif sang majikan. Si kucing garong punya strategi khusus untuk menunjukkan ‘hegemoni’ kekuasaannya. Dengan tenang dan penuh wibawa ia akan berhenti sebentar, ambil ancang-ancang, menunggingkan ekor, lalu ‘cuuuurrrrr’, pipis di tempat ‘penandaan’ kekuasaan. Seperti itulah yang terjadi juga dengan jaket almamater ‘khusdi’ suatu hari. Sampai-sampai Khusdi menaruh rindu dendam kepadanya dan membalas dengan menendangnya sampai terpental di halaman rumah. Tapi dasar mental si kucing Garong, kena hukuman seperti itu ia tetap tak jera, masih dengan santainya keluyuran di dalam rumah.

Kucing-kucing yang lain saya tidak hapal dan tidak ada yang seunik Blacky atau se-preman kucing Garong, jadinya tidak perlu disebutkan satu-satu. Hanya selama kami tinggal disana tak sering pada malam-malam yang hening, pas enak-enaknya bermimpi tiba-tiba para kucing itu berkelahi. Entah itu berkelahi atau mau kawin. Kalau sudah sampai begitu tak ada

yang bisa menghentikan suara memekakkan seperti itu kecuali dengan melemparnya dengan ‘sandal’.

Nah, diantara hubungan paling berkesan dengan kucing-kucing Karimunjawa itu, saya pikir Wujdi masih ‘trauma’ dengan dengan kucing garong dan masih kangen tidur dikeloni Blacky.





Pace Kop vs Kerok

11 04 2008

Pak Pri, tuan rumah tim kami, Sub Unit Nyamplungan, ternyata punya banyak kepiwaian selain sebagai guru yang dicintai murid-muridnya di SDN Karimunjawa 04. Di rumah, Ia adalah seorang ‘fisikawan’ yang selalu melakukan eksperimen-eksperimen fisika dari membuat jaringan listrik tenaga surya sampai membuat sumur tenaga hidrolik yang bisa memompa sendiri. Ia adalah juga seorang ‘tukang insinyur’ yang merancang maket masjid ‘nyamplungan’, merancang bangunan renovasi SD Karimunjawa 04, merancang rumahnya sendiri sampai sampai menjadi ‘tukang bangunan bagi rumahnya sendiri. Di malam-malam tertentu, kalau hobi mancingnya kambuh, ia akan menjadi ‘nelayan’ yang bisa menghabiskan waktu memancing dari petang sampai dini hari, meski tak pelak pagi harinya harus mengajar di kelas dengan kelopak mata tebal-tebal.

Pak Pri adalah juga tukang cerita yang bisa menceritakan pengalaman hidupnya, pendapatnya sampai berkali-kali. Terakhir ia adalah seorang tabib handal yang punya referensi tanaman-tanaman obat, pijat refleksi sampai alat KOP!

FAQ : “Apa itu alat Kop? ”

A : Alat kop itu semacam alat yang berupa peyedot dengan tatakan gelas penyedot dari ukuran kecil sampai ukuran yang besar berdiameter sekitar 10cm. Alat kop tradisional caranya dengan menaruh gelas kaca pada bidang badan (biasanya punggung) si pesakitan. Lalu di dalamnya diberikan api kecil (biasanya berupa koin yang dibuntal kertas) dengan tujuan menyedot udara di dalam gelas. Nah, konon kalau si pesakitan benar-benar baru masuk angin, bekas kop akan berupa bulatan kebiru-biruan.

Mengenai alat Kop dan ilmu Tabib Pak Pri ini aku pernah jadi si pesakitannya :
Suatu hari pas hari pertama kepindahan kami ke rumah Pak Pri, aku dan keempat rekan sudah mulai sibuk dengan kegiatan KKN. Tapi hari pertama itu aku merasakan tubuhku ndak enak. Sampai menjelang siang sewaktu ada kegiatan belajar dengan anak-anak, tiba-tiba aku mau muntah dan minta ijin tiduran sampai sore harinya.

Nah, di malam harinya, Pak Pri langsung mememeriksaku, bercerita panjang lebar dan akhirnya menawarkan bantuan pengobatan Kop nya.

Lantas, aku berbaring, tanpa pandang malu, karena kondisi badan yang masih sakit, dimulailah prosesi kop itu dengan disaksikan teman-teman satu tim. Semua kawan satu tim tertawa cekikian melihat diriku mengaduh saat alat kop itu satu demi satu membuat bulatan-bulatan biru pada sekujur bidang punggung. Belum punah rasa sakit campur malu, Pak Pri menawarkan pijat refleksi. Apa daya tak bisa menolak semua kakiku langsung jadi sasaran. Sewaktu pak Pri memijit titik-titik tertentu pada jemari sakitnya alang kepalang. Makin cekikianlah kawan-kawan yang bergerombol menyaksikan aku si pesakitan.

Prosesi Kop dan pijat refleksi sudah paripurna. Sehabis itu memang tubuh serasa hangat dan enteng.

Pak Pri bilang :”Wah, itu bulatan-bulatan biru di punggung bekas kop paling belum sampai 3 atau 4 hari!”

Pagi hari yang indah, tidur yang nyaman di malam pertama tidur di rumah Pak Pri. Suasana yang lain, udara segar, ayam-ayam, dan wah tubuh sehabis di kop semalam terasa enak. Pak Pri menyambutku dengan senyum aneh: “Gimana kondisinya mas Alex”

Di genggaman tangan pak Pri memegang sesuatu, buah Pace alias mengkudu!

“Nah, ini biar darah rendah mas alex bisa sembuh, Pace-nya harus dimakan sampai habis yaa!”

“Gleg”, mencium baunya saja aku hampir muntah, tapi dasar nasib, pagi pertama di rumah pak pri di ospek makan pace mentah mentah.

Dengan ditunggui pak pri terpaksa kutelan pace itu. Rasanya pengar campur kecut, campur pait campur aduk dan baunya itu yang ndak menguatkan.

Aku hampir memuntahkannya berkali-kali, meski akhirnya separuh pace telah sukses masuk lambung dan sisanya…. sisanya diam-diam aku lempar ke ayam!

“Sudah habis semua mas Alex, enak kan, saya biasa makan pace”, sambil senyum penuh selidik

“Sudah pak… mmmm, lumayan pak…” Kataku sambil merem melek.

Bau pace ndak hilang-hilang sampai penghujung siang, tapi memang setelah itu kepalaku langsung terasa enteng. Pace memang berkhasiat, tapi kalau aku disuruh memakannya mentah-mentah, wah… kayaknya aku harus minta pamit dulu…..





Samat

3 04 2008

Samat mengingatkan pada tokoh Sukab , tokoh legendaris dalam cerita-cerita karya Gumira Adjidarma. Kalau Sukab itu tokoh imajiner, sedangkan Samat ini adalah seorang bocah di sebuah dusun terpencil di pulau Karimunjawa. Usianya menurut perkiraanku sekarang baru sekitar 11san. Samat masih duduk kelas 5 di SDN Karimunjawa 04.
Sejak awal Samat lebih mencolok dibandingkan kawan-kawan sepermainannya yang lain. Selain karena perawakan kurus, kulit gelap, bola mata yang bulat besar dan kepala plontos, lengkaplah stereotype anak ‘ngglidig’ baginya.
Memang, Samat paling bandel, kalau diajak berbicara ia akan langsung menyela dengan tangkisan ‘mengeyel’, balik bertanya tentang ‘sesuatu yang dibuat-buat’. (unfinished yet)

samat.jpg
(Samat in act)